AGEN TIKAR LAMPIT ROTAN SABURINA

PUSAT TIKAR LAMPIT ROTAN SABURINA

Pada awalnya lampit hanya memang difungsikan untuk alas penutup lantai pada sebuah ruangan. Hal ini karena
lampit terbuat dari bahan rotan yang bisa menyerap dingin, cocok digunakan oleh Negara Asia seperti Indonesia
yang panas dengan suhunya bisa mencapai 35 derajat Celsius. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan
bertambahnya keragamnya kebutuhan manusia, maka munculah berbagai kreasi menarik yang merupakan inovasi dari
tikar lampit.

TIKAR LAMPIT ROTAN SABURINA tersebut diolah dalam berbagai ukuran dan bentuk, sesuai kebutuhan pembeli nya
seperti:

alas untuk sajadah solat
alas meja makan
alas lantai
alas ruang tamu
pengganti permadani (bagi yang alergi debu)

Daftar Harga Jual Tikar Lampit Rotan Kalimantan

60 X 100 cm (Ukuran Sajadah) Harga Rp 80,000,-
100 X 200 cm (Berat 2 Kg) Harga Rp 200,000,-
120 X 200 cm (Berat 3 Kg) Harga Rp 235,000,-
140 X 200 cm (Berat 3 Kg) Harga Rp 250,000,-
160 X 200 cm (Berat 4 Kg) Harga Rp 275.000,-
176 X 200 cm (Berat 4 Kg) Harga Rp 290,000,-
200 X 200 cm (Berat 4 Kg) Harga Rp 310,000,-
200 X 250 cm (Berat 5 Kg) Harga Rp 350,000,-
200 X 300 cm (Berat 6 Kg) Harga Rp 390,000,-

Hubungi kami :
– 082211121921
– 085711190250

Kunjungi website kami:
http://www.mustikarotan.com

tumbuhan Rotan (Calamus trachycoleus) ialah rotan berkualitas baik untuk membuat lampit (tikar). Di Indonesia, tumbuhan Rotan dikenal dengan nama-nama seperti tumbuhan Rotan (Melayu Banjar), uwèï irit (Dayak Ngaju), dan jahap (Kutai).

definisi
tumbuhan Rotan ialah rotan yang masih berkerabat dengan keluarga palem dengan tinggi 30 meter, dan hidup berumpun. Bagian pangkal batang dapat membentuk tunas baru yang melata di atas tanah; bagian ini dikenal dengan selantar. Rotan Kalimantan, menurut Odoardo Beccari berbadan bungkuk dan berwarna merah karat pada duri-duri kecilnya dan berbentuk segitiga memanjang. Daunnya berbentuk sirip, terdiri atas 14 pasang anak daun yang tersusun dalam 2-3 kelompok. Anak-anak daun berbentuk lanset memanjang. Jumlah anak daun dalam setiap daun tidaklah banyak; berjumlah sekitar 15 pasang saja. Bagian atas berwanra hijau, baik bagian atas maupun bawah. Bagian atas daun berwarna agak mengkilap, sedangkan bagian bawahnya kusam. Anak-anak daun ini berukuran:30-35 × 28–32 cm. Yang jelas, daun dari tumbuhan Rotan agak lebar. Perbungaan berbentuk malai, panjangnya 1,5 m. Perbungaan jantan dan betina terletak pada berlainan tumbuhan. Bunga-bunganya tersusun dalam bentuk bulir. Buahnya oval-melonjong, jelas-jelas kelihatan berbengkok, berukuran 11–13 mm lebarnya, panjangnya 8 mm, dan berukuran agak lebar dan berwarna kekuning-kuningan. Ujung buah berwarna coklat-kemerahan dan beralur. Bijinya memanjang, oval, dan tepi-tepinya membulat.

Persebaran & habitat
tumbuhan Rotan hidup endemik di Kalimantan. Tumbuhan ini bertumbuh di pinggir sungai dan rawa-rawa pada ketinggian 0-15 mdpl. Sebagai penghasil rotan, tumbuhan ini cukup dikenal masyarakat. Odoardo Beccari mengatakan bahwa koleksi tumbuhan Rotan di Museum Ekonomik Botani Kebun Raya Bogor rupa-rupanya didapati dari Kalimantan Tengah, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Rotan ini didapati di tepian sungai bertebing yang digenangi air selama 6 bulan; sebagian badannya merambat di tepi sungai dan sebagiannya lagi di dalam air, dan di saat banjir tumbuhan ini bisa bertahan, tidak mati.

Kegunaan
tumbuhan Rotan memiliki pasaran yang baik sekali untuk bahan baku lampit (tikar), macam-macam keranjang dan anyam-anyaman lainnya. Menurut Heyne, kualitas tumbuhan Rotan lebih baik ketimbang rotan sega (Calamus caesius Bl.). Karena mudah dibengkokkan seperti simpul, ia bisa dibuat untuk anyaman dengan cepat. Oleh sebab itulah, tumbuhan Rotan juga ditanam masyarakat. Terutama di Kalimantan Selatan. Namun, tumbuhan Rotan memiliki kekurangan dibandingkan dengan rotan sega: agak lunak dan kurang kuat. Namun, warnanya indah. Jenis ini secara keseluruhan pendek dan bisa diikat seperti simpul berupa cincin berwarna merah yang berukuran kecil asal mengikuti alur batang. Di Banjarmasin, ia biasanya dicampur dengan rotan sega (dikenal juga dengan sebutan rotan taman) sebelum digunakan. tumbuhan Rotan juga dipergunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah setelah ditebang, juga menjadi pendapatan bagi orang Dayak yang menanam rotan ini. Musim berbuah tumbuhan Rotan terjadi pada Oktober-November.

Penanaman
Tumbuhan ini dibudidayakan di tepi sungai Barito, Kalimantan Selatan dan Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Di sana, tumbuhan ini dibudidayakan dengan luas ribuah hektar. Dipanen apabial sudah berusia 7-10 tahun. Dipanen dengan jarak 2 tahun setelah panenan yang pertama. Selanjutnya, rumpun tumbuhan Rotan tidak lagi menghasilkan rotan lagi. Kalaupun ada, jumlahnya tidak berarti. Budidaya tumbuhan Rotan hanya dilakukan secara tradisional. Belum ada usaha secara terencana untuk mempertinggi produksi dan mutu rotan ini hingga tahun 80-an.

Dalam menanam Rotan Kalimantan, ia perlu tumbuhan rambatan/peneduh, misalnya Syzygium, Mallotus muticus, dan Diospyros sp. Namun, Mallotus muticus dianggap lebih penting dari ketiga tumbuhan di atas. Adapun yang menjadi masalah, penanaman tumbuhan Rotan ini masih menggunakan metode tebang dan bakar. Sehingga, ini bisa mengurangi kesuburan tanah. Hendaknya, penanaman tumbuhan Rotan ini dijadikan subjek dalam pengembangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s